BENANG KIRMIZI SEPANJANG ALKITAB – MALAM TAHUN BARU

(THE SCARLET THREAD THROUGH THE BIBLE - NEW YEAR'S EVE)

Bagian 3

 

Dr. W. A. Criswell

diterjemahkan oleh Dr. Edi Purwanto

 

12-31-61

 

Pada tahun 587 S.M., kerajaan selatan itu telah hancur dan Nebukadnezar, salah satu raja yang paling hebat, yang paling berkuasa, yang paling punya banyak kemampuan, dan yang paling terberkati dari semua Raja sepanjang masa, yang disebutkan berulang kali dalam Alkitab daripada raja penyembah berhala lain, membawa semua orang yang tinggal di negeri Yehuda dan kota Yerusalem masuk ke dalam pembuangan di Babilonia. Yeremia dipaksa oleh sisa penduduk yang masih tinggal untuk pergi ke Mesir dan di sana Yeremia meninggal.  Nabi Yeremia telah menubuatkan bahwa setelah 70 tahun umat itu dibawa ke pembuangan, mereka akan mendapatkan kesempatan untuk kembali. 

Nebukadnezar adalah seorang raja yang punya segalanya.  Dia membuat Babilonia menjadi salah satu kota terindah di dunia. Taman berteras Babilonia yang dia buat untuk istrinya dari Media. Karena istrinya itu dibesarkan di daerah perbukitan dan agar dia merasa seperti di daerah asalnya, dia membangun taman teras yang sangat indah. Salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Tetapi Nebukadnezar memiliki kelemahan yang mencolok.  Semua yang dia lakukan, dia lakukan sendiri, dengan kecerdasan sendiri, dengan rencana sendiri, dan dia tidak pernah melatih siapapun untuk menjadi penerusnya. Sehingga kerajaan Nebukadnezar dengan cepat mengalami perpecahan segera setelah kematiannya.

Pada tahun 538 S.M., Koresy dari Persia merebut Babilon tanpa pertempuran berarti.  Kota itu jatuh begitu saja ke tangannya. Dan Daniel, seperti Anda tahu, menerangkan kejatuhan itu dalam kitabnya.  Beltsazar adalah raja yang duduk di tahta di bawah pemerintahan Nabonidus, ayahnya. 

Pada malam ketika Koresy merebut kota Babilon tanpa perang, tanpa pertempuran, Beltsazar bersama dengan para pejabat istananya sedang mengadakan pesta mabuk-mabukan.  Raja Koresy, raja yang membangun kekaisaran Media-Persia, telah disebutkan namanya dan dinubuatkan oleh salah satu dari orang yang diurapi Allah.  Dalam Yesaya 44:28 dan dalam Yesaya 45:1, ratusan tahun sebelum dia lahir, Yesaya telah menyebut nama Koresy.  Koresy adalah salah satu dari pembangun kekaisaran yang paling luar biasa, paling mengesankan, paling simpatik, yang tekah mengubah kebijakan Niniwe dan Asyur dan kebijakan Nebukadnezar dengan memberikan kesempatan kepada semua tawanan untuk kembali ke negeri dari mana mereka berasal. Pada saat dekrit itu dikeluarkan oleh Koresy, pendiri kekaisaran Medo-Persian itu, orang-orang Yahudi memiliki kesempatan untuk kembali ke tanah airnya di Palestina untuk membangun kembali kotanya di Yerusalem dan untuk membangun kembali Bait Suci mereka.

Peristiwa tersebut melahirkan Mazmur 126 yang indah:  “Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi.  Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!" TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita. Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb! Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya” (Mazmur 126:1-6). Itu adalah sebuah nyanyian yang dinyanyikan oleh para tawanan saat mereka kembali ke kota suci mereka dan tanah suci mereka, Yehuda dan Yerusalem. 

Enam pasal pertama dari Kitab Ezra menerangkan kembalinya Zerubabel bersama dengan sekitar empat puluh ribu orang Yahudi untuk membangun kembali Bait Suci. Kemudian pasal tujuh sampai dengan pasal sepuluh dari Kitab Ezra menerangkan kembalinya sang imam Ezra sendiri, yang kembali untuk memulihkan dan memurnikan agama mereka. Sepuluh pasal tersebut mencakup periode sekitar delapan puluh tahun, yaitu dari tahun 536 S.M. sampai dengan tahun 457 S.M..  Kemudian Nehemiah kembali ke Palestina dan ke Yerusalem sejenak setelah Ezra untuk membangun kembali tembok Yerusalem. Pada hari-hari terakhir itu nabi-nabi terakhir Israel bangkit untuk membawa pesan Allah. Mereka adalah Hagai, Zakharia dan Maleakhi. 

Yang pertama dan yang tertua dari tulisan para nabi itu adalah Yoel.  Dia hidup sekitar tahun 825 S.M.  Kemudian dari sekitar tahun 800 S.M. sampai dengan tahun 750 S.M. hanya ada tiga nabi yang ada dan bernubuat di Kerajaan Utara.  Mereka adalah Yunus, Amos dan Hosea. Sekitar 700 S.M. ada nabi Yesaya dan Mikha yang bernubuat di bawah pemerintahan Uzia, Yotam, Ahaz dan Hizkia.  Kemudian dari sekitar tahun 650 S.M. sampai dengan tahun 600 S.M., ada nabi Zefanya, Nahum, Obadiah dan Habakkuk.  Kemudian di Babilon, sezaman dengan Yeremia Allah membangkitkan Daniel dan Yehezkiel sebagai nabi. Sementara Yeremia berkotbah di Yerusalem, Daniel dan Yehezkiel berkotbah di Babilon.  Akhirnya Anda memiliki tiga nabi pada zaman pembangunan kembali Yerusalem.  Hagai jelas adalah seorang yang sudah tua yang telah melihat kehancuran Bait Suci di Yerusalem dan yang telah ikut dibuang dan yang kemudian kembali ke Palestina bersama dengan Zerubabel dan Ezra. Dia mendorong umat itu untuk membangun kembali Bait Suci.  Optimisme Hagai yang sudah tua sungguh mengagumkan diperhatikan.  Saat Hagai memandang reruntuhan dan puing-puing itu, ia tahu bahwa tidak mungkin menugaskan segelintir orang Yudea untuk membangun kembali Bait Suci dan kota itu dan kerajaan itu. Itu adalah salah satu prospek yang paling tidak ada harapan di dunia. Tetapi Hagai, orang tua itu, yang telah melihat bagaimana Bait Suci Salomo dihancurkan, yang telah menjalani seluruh masa hidupnya sebagai tawanan dan yang telah kembali bersama Zerubabel, Hagai berkata, “Allah berfirman bahwa Bait Suci kedua yang akan kamu bangun ini akan lebih megah dari pada Bait Suci yang dibangun Salomo.” Bagaimana itu bisa terjadi?  Terbukti bahwa Tuhan Yesus memasuki Bait Suci kedua yang dibangun di bawah Zerubabel itu. 

Kemudian seorang muda, Zakharia datang bersama Zerubabel dan Ezra.  Zakharia berbicara banyak tentang Israel, akhir zaman, dan pertobatan umat Tuhan. Kemudian, nabi terakhir, tentu saja adalah Maleakhi.  Maleakhi berkotbah sekitar tahun 450 S.M. sampai dengan tahun 425 S.M.. Maleakhi menutup nubuatannya dengan kedatangan Tuhan:  “Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam. Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu” (Maleakhi 3:1-2). Dalam pasal terakhir Maleakhi menubuatkan, “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu” (Maleakhi 4:5). Jadi Kitab ini ditutup dengan umat yang mengharapkan kedatangan Elia, sang nabi, yang datang untuk mengumumkan datangnya sang raja besar, yaitu Mesias. Keturunan perempuan itu; keturunan Abraham dan raja yang dijanjikan kepada Daud yang akan duduk di atas tahtanya selamanya.

Kemudian kita sampai pada Periode Intertestimental (periode antara Maleakhi dan Yohanes Pembaptis) dimana pada periode itu bangkitlah Kekaisaran Yunani.  Alexander Agung yang merupakan murid Aristoteles, memiliki hasrat untuk me-Yunani-kan dunia sama seperti Paulus yang memiliki hasrat untuk meng-Kristen-kan dunia.  Allah menggunakan Kekaisaran Yunani untuk menyebarkan satu budaya dan satu bahasa yang membuat pemberitaan kabar baik Kristus menjadi mungkin ke seluruh dunia beradab. Ketika Paulus menulis surat ke Roma, yang merupakan ibukota kekaisaran, dia menulis surat itu dalam bahasa Yunani.  Bilamana seseorang hidup di zaman Kekaisaran Romawi, jika dia bisa membaca, dia akan membaca dalam bahasa Yunani.  Jika dia berpendidikan, dia akan mengetahui tentang Yunani dan bahasa Yunani, adat istiadat Yunani, budaya Yunani, filsafat Yunani, seni dan ilmu pengetahuan serta literatur Yunani. Segalanya mengenai Yunani.  Alexander menaklukkan seluruh dunia dan men-Yunani-kan seluruh dunia.

Ketika Alexander Agung meninggal, kerajaan itu terpecah menjadi empat bagian. Jendral Cassander mengambil mengambil wilayah Yunani.  Jendral Lysimachus mengambil wilayah Asia Kecil. Jendral Seleucus, ayahnya dari Antiokus mengambil wilayag Syria, dan Jendral Ptolemy mengambil wilayah Mesir.  Pada bagian pertama Periode Intertestimental ini, Palestina berada di bawah kekuasaan dinasti Ptolemy dan menikmati masa tenang.  Imam besar memerintah di sana. Tetapi pada tahun 198 S.M., Antiokhiaus III mengalahkan dinasti Ptolemy dan Palestine diserahkan ke tangan dinasti Seleucus, dan negeri kecil itu terus menerus dilanda kerusuhan.  Raja-raja Syria itu berlaku sangat kejam.  Salah satu dari raja yang pernah memerintah dinasti itu adalah Antiokus Epifanes, yang pernah membawa pasukannya dan merebut Bait Suci dan mencemarkan kekudusan tempat itu. Dia membawa perasan dari tuaian dan menuangnya di ruang mahakudus itu untuk mencemarkannya. Dia mendedikasikannya atau mempersembahkan tempat suci itu untuk Jupiter Olympus, kepada Zeus, nama Yunani untuk Dewa Tertinggi. Dan dia melarang orang untuk bersunat. Dia melarang orang memelihara hari Sabat.  Dia melarang agama Yahudi. 

Pada suatu hari, ada seorang Yahudi pengecut di kota kecil Modin, sekitar 17 mil di sebelah barat laut Yerusalem.  Seorang Yahudi pengecut itu belutut dan menyembah di kuil Jupiter Olympus. Pada saat dia melakukannya ada seorang imam tua bernama Mattathias. Dia mengangkat tangannya dan dia membunuh orang Yahudi pengecut itu. Dia juga menangkat tangannya dan dia membunuh utusan dari Antiokus Epifanes yang menuntut penyembahan kepada dewa berhala Yunani.  Kemudian orang ini, Mattathias, membawa orang-anak-anaknya melarikan diri dan mereka tinggal di gunung-gunung dan melakukan perang gerilya melawan bangsa Syria.

Anak laki-laki pertama dari imam tua itu, Mattathias itu diberi nama Yudas Maccabe atau Yudas ‘sang pemukul palu agama’. Yudas Maccabe memimpin kelompok gerilyawan untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Yahudi dari kekuasaan Antiokus Epifanes.  Yudas tewas dan adiknya yang bernama Yonathan meneruskan perjuangannya. Ketika Yonathan terbunuh, Simon melanjutkan.  Simon kemudian mendirikan dinasti Hasmonean. Putranya bernama Yohanes Hyrcanus juga memiliki putra yang bernama Alexander Jannaeus.  Istri Alexander adalah Alexandra Salome, kedua putranya diberinama Yohanes Hyrcanus II dan Aristobulus II.  Mereka berselisih dan menyebabkan terjadinya perang saudara demi merebutkan posisi sebagai penguasa yang memerintah atas Yehuda ketika pasukan Romawi dating. Pompey tiba di Palestina pada tahun 63 M. bersama dengan legiun Romawinya. Dia mendengar pertikaian antara Yohanes Hyrcanus II dan Aristobulus II dan kemudian dia mengambil negara itu menjadi bagian dari wilayah Kekaisaran Romawi. 

Kemudian orang-orang simpati dengan Helenisme  disebut sebagai golongan orang Saduki, dan mereka yang sangat bertentangan dengan Hellenisme disebut golongan Farisi. Ketikat Yesus mulai tampil, Ia langsung berkonfrontasi dengan dua golongan itu. Pada waktu kelahiran-Nya, bangsa itu diperintah oleh Herodes Agung, seorang raja yang ditunjuk oleh Roma untuk menjadi raja bagi orang Yahudi.  Golongan Farisi dengan sangat ketat mematuhi hukum Taurat dan sangat menentang setiap bentuk tekanan asing. Sementara di sisi lain golongan orang Saduki suka berbisnis dengan orang Roma atau dengan siapapun yang akan memberikan hadiah memberikan jabatan imam besar kepada mereka untuk dapat menjadi penguasa dan pemimpin umat. Pada masa itu Herodes Agung ditetapkan pemerintah Roma menjadi raja Yahudi.

Ketika Kaisar Agustus menjadi kaisar Romawi, dan ketika Roma memegang seluruh dunia ini di tangannya, nubuatan besar Yesaya, nubuatan besar Mikha dan nubuatan besar Yakub kepada anaknya, Yehuda, dan janji agung dari Tuhan Yang Mahakuasa kepada Hawa, nubuatan besar itu tergenapi. Melalui keturunan perempuan dan melalui keturunan  Abraham, semua bangsa di bumi ini akan diberkati – dan Juruselamat kita lahir ke dunia ini. “Benang Kirmizi Sepanjang Alkitab.” Mengapa Dia datang?  Albert Schweitzer dalam buku teologinya yang terkenal yang berjudul The Quest for the Historical Jesus mengemukakan tesis bahwa Yesus Kristus datang ke dunia ini mengharapkan kerajaan apokaliptik, kerajaan Mesianik turun dari Sorga. Ketika kerajaan yang diharapkan itu tidak turun, Schweitzer berkata bahwa Dia mati dalam kekecewaan dan dalam keputus-asaan, Ia patah hati – tertolak, terusir, disangkal.  Tetapi bagi kita yang percaya Alkitab dan memberitakan firman Tuhan, yang sesungguhnya terjadi bertolak belakang saat sekali dengan tesis Schweitzer tersebut.  Tuhan kita datang ke dunia ini untuk mati bagi kita, orang berdosa.  Itulah sebabnya mengapa Dia datang, sesuai dengan firman Allah. Kematian-Nya bukanlah lelucon murahan. Juga bukan komedi ilahi. Namun kematian Kristus telah ditetapkan sebelum dasar-dasar bumi ini ini diletakkan, ketika Dia memberikan diri-Nya sendiri sejak mulanya untuk menjadi alat penebusan Allah untuk menebus keturunan Adam yang hilang dan berdosa.  Tema kita ini “Benang Kirmizi Sepanjang Alkitab.”  Dia datang ke dunia untuk mati.  “Engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matius 1:21).

Ketika Yesus memulai pelayanan-Nya, Ia juga telah berada di bawah bayang-bayang salib.  Melalui seseorang yang diutus Allah yang bernama Yohanes, yang Mahakuasa memperkenalkan Putra-Nya:  “Lihatlah, Anak Domba Allah” (Yoh. 1:29, 36).  Pikirkan apa artinya itu bagi setiap orang Yahudi.  “Lihatlah, Anak Domba Allah.” Setiap pagi, setiap malam selama berabad-abad bangsa itu telah menyaksikan korban dimana darah tercurah dan Anak Domba dipersembahkan kepada Allah untuk dosa bangsa ini, untuk penghapusan semua ketidaksetiaan umat itu.  “Lihatlah,” kata Yohanes sanga Perintis jalan yang agung, “Lihatlah, Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.”
Dalam pelayanan-Nya, Yesus lebih dahulu mulai mengajar murid-murid-Nya bahwa Dia harus menderita dan mati.  Ketika Dia dimuliakan, tampaklah Musa dan Elia berbicara dengan Dia mengenai kematian-Nya yang akan terlaksana di Yerusalem.  Pada saat dia diurapi oleh Maria dari Betania, Ia berkata bahwa itu adalah penguburan-Nya.  Ketika orang Yunani datang untuk melihat-Nya dari kejauhan, Ia berkata: “Dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (Yoh. 12:32). Pada saat Perjamuan Terakhir, Dia berkata, ”Inilah tubuh-Ku;  Makanlah ini sebagai peringatan akan Aku.” Dan lagi Ia berkata, “Ini adalah darah-Ku; minumlah sebagai peringatan akan Aku.” Sebelum Ia pergi ke kayu salib, Ia menyerahkan jiwa-Nya untuk menderita sengsara di Getsemani demi penebusan kita (Yesaya 53:11). Kemudian saat Dia menundukkan kepala-Nya dan mati, Dia berkata, ”Sudah selesai” (Yoh. 19:30). Saat kita memberitakan salib dan saat kita berkotbah tentang darah dan saat kita berkotbah tentang kematian Kristus sebagai korban, kita sedang berkotbah tentang makna kedatangan-Nya ke dunia. Pengorbanan Kristus telah menyempurnakan rencana dan tujuan penebusan agung Allah di bumi ini. Ini adalah benang kirmizi sepanjang masa.

Pada hari ketiga Tuhan kita bangkit dari kematian dan Dia pertama kali menampakkan diri kepada Maria Magdakena.  Kemudian Dia menampakkan diri kepada para perempuan. Kemudian Dia menampakkan diri kepada dua orang murid yang sedang dalam perjalanan menuju Emmaus. Kemudian Dia menampakkan diri kepada Petrus seorang diri. Kemudian malam itu, pada hari Minggu malam itu, Dia menampakkan diri kepada sepuluh murid, ketika Thomas tidak hadir di sana.  Kemudian di Minggu malam berikutnya, Dia menampakkan diri kepada para 11 murid. Itulah alasan mengapa saya suka beribadah pada Minggu malam.  Tuhan menemui para murid-Nya pada malam hari, dan Dia menampakkan Dirinya sendiri kepada para murid-Nya di malam itu. Dia berfirman kepada mereka dari Kitab Suci mengenai Diri-Nya sendiri di malam hari. Dia bertemu dengan para murid-Nya pada malam hari.  Kemudian dia bertemu dengan tujuh orang murid di Danau Galilea.  Kemudian Yesus menampakkan diri kepada lima ratus orang sekaligus di sebuah bukit di Galilea. Kemudian setelah menghibur dan menguatkan  para murid-Nya di Yerusalem, Dia naik ke Sorga di puncak Gunung Zaitun. 

Pada saat kenaikan itu para murid datang kepada Yesus dan berkata, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kis. 1:6). Yesus berkata, “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.”  Ada kerajaan yang akan datang. Allah tidak pernah gagal menggenapi rencana dan tujuan-Nya.  Ada kerajaan yang akan datang. Tetapi sementara itu, Tuhan telah menempatkan sebuah intermisi, interlude besar, tanda kurung besar.  Itulah yang disebut ‘musterion’ (bahasa Yunani) atau ‘mystery’ atau ‘rahasia’, dalam Efesus pasal tiga, yang mana Paulus berbicara tentang rahasia tidak dapat dilihat oleh para nabi dan Perjanjian Lama tidak pernah merujuk atau menekankannya.  Ada tanda kurung antara penolakan terhadap Raja dan kerajaan dengan masa ketika Raja dan kerajaan itu akan datang dari Allah dari Sorga.  Dalam kurun waktu ini, kita menyebutnya sebagai Zaman Anugerah.  Kita menyebutnya Zaman Gereja. Zaman ketika baik orang Yahudi maupun non-Yahudi, laki-laki ataupun perempuan, budak maupun orang merdeka, kita semua diundang untuk masuk ke dalam iman di dalam Yesus Kristus.  Tuhan berkata kepada para murid-Nya, “Kamu akan menjadi saksi atas semua ini.” Ia tidak berkata, “Kamu akan mendirikan kerajaan itu.” Dia yang akan mendirikan kerajaan itu. Akan selalu ada dosa, penolakan dan kejahatan di sini. Daniel berkata, “sampai pada akhir zaman akan ada peperangan” (Daniel 9:26). Sampai perang besar di Harmageddon, semua manusia akan terpecah-pecah dan mereka akan selalu bersiap untuk perang.  Mereka akan selalu berada dalam konflik.  Kita tidak akan pernah bisa mendirikan kerajaan itu, tetapi kita akan menjadi saksi dari keselamatan besar dan kita ada untuk menawarkan itu kepada dunia orang-orang yang masih terhilang. Kita semua diundang masuk ke dalam kasih dan anugerah Yesus untuk menjadi satu keluarga iman. “Datang, datang, datanglah!” Kita akan menjadi saksi anugerah Allah sampai pengumuman besar dan akhir itu pada akhir zaman. Dalam cara ini dan dengan pesan ini orang-orang Kristen mula-mula mulai memberitakan Injil.

Pertama, kabar gembira atau Injil diberitakan Petrus kepada orang Yahudi, hanya kepada orang Yahudi saat Pentakosta di Yerusalem.  Kemudian kedua, Injil itu diberitakan oleh Filipus, seorang Helenis, kepada orang-orang campuran setengah Yahudi di Samaria.  Kemudian ketiga, Injil itu diberitakan kepada seorang proselit (seorang Etiopia yang menganut agama Yudaisme), sida-sida Etiopia di jalur Gaza. Kemudian berikutnya, Injil itu diberitakan kepada orang-orang non Yahudi di Kaesarea.  Kemudian dalamm Kisah Para Rasul pasal sebelas, Injil  itu diberitakan kepada para penyembah berhala, kepada kepada orang-orang Yunani yang kemudian meninggalkan penyembahan berhala mereka dan beriman kepada Anak Allah yang mulia di Antiokhia. Akhirnya, Tuhan berfirman, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” Kemudian Paulus pergi dan memberitakan Injil kepada seluruh dunia yang masih menyembah berhala.
Jadi, Injil mulai meluas ke seluruh dunia. Pertama oleh Petrus, seorang rasul bersunat, yang memberitakan Injil hanya kepada orang-orang Yahudi. Kemudian membangkitkan Stefanus sebagai jembatan antara Petrus, rasul untuk orang-orang Yahudi, dan Paulus, rasul untuk orang-orang non-Yahudi. Setefanus adalah seorang Helenis, yang menekankan bahwa Allah tidak diam di dalam bait yang dibuat dari batu. Stefanus menunjukkan bahwa Abraham menyembah Allah di puncak gunung, dan sebaliknya Musa menyembah Allah di padang gurun. Stefanus adalah jembatan antara khotbah Simon Petrus kepada orang-orang Yahudi dan khotbah Rasul Paulus kepada orang-orang non-Yahudi. Rasul Paulus memberitakan bahwa manusia dapat diselamatkan tanpa menganut dan menjalankan ibadah agama Yahudi. Dia tidak harus memelihara seremoni-seremoni hukum Taurat. Ia tidak harus disunat. Ia tidak harus memelihara perintah-perintah Musa.  Semua yang harus dilakukan manusia agar dia bisa diselamatkan adalah berbalik, menyesali diri, menyerahkan hati dan kasihnya kepada Tuhan Yesus, dan Allah akan menyelamatkan dia selamanya.  “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Roma 10:9, 10). Karena Kitab Suci berkata: “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan” (Roma 10:13). Itu adalah Injil yang diberitakan oleh Paulus.

Paulus memberitakan Injil ini perjalanan misi pertamanya. Ia pergi dari Antiokia turun ke Seleukia, kota pelabuhan di ujung Orontes. Kemudian menyeberang ke Siprus. Dari sana Ia pergi ke Salamis. Kemudian ke ibukota Siprus, yaitu Pafos. Kemudian sekitar 170 mil melintasi laut ke Perga di Pamfilia. Kemudian naik ke Antiokhia di Pisidia dan kemudian turun ke Ikonium dan Listra, dan akhirnya tiba di Derbe.  Kemudian mereka kembali ke Atalia dan Antiokhia lagi seperti perjalanan misi pertama mereka. Tetapi mereka menghadapi masalah karena rasul-rasul lain memberitakan bahwa seseorang bisa menjadi seorang Kristen hanya dengan percaya kepada Yesus saja.  Perbedaan tersebut kemudian dibawa ke dalam sidang Yerusalem yang terkenal dalam  Kisah Para Rasul 15. Orang-orang Yahudi menegaskan bahwa orang-orang itu harus disunat sebelum dapat diselamatkan. Mereka menasehatkan bahwa seseorang harus memelihara hukum Musa sebelum ia bisa menjadi seorang Kristen.  “Seorang manusia tidak bisa serta merta diselamtkan hanya dengan percaya kepada Yesus saja,” kata mereka. mereka menambahkan, “Ia harus disunat.” “Tidak,” kata Paulus.  “seseorang diselamatkan oleh iman dan bukan oleh pekerjaan. Ia diselamatkan hanya dengan percaya kepada Yesus saja.” Mereka melakukan pertemuan besar di Yerusalem, dan apa yang dikatakan Roh Kudus, persis seperti yang diberitakan Paulus.  Orang-orang Kristen non-Yahudi bebas dari kuk hukum Taurat.

Paulus kembali ke Antiokhia dan memulai perjalanan misi keduanya. Ia memilih Silas sebagai rekan seperjalanannya dan mereka melakukan perjalanan dan menelusuri kembali jejak mereka ke semua gereja lain yang telah terbentuk di Galatia. Kemudian Roh Kudus mengirim mereka turun ke Troas.  Mereka tidak tau apa yang harus dilakukan, dan malam itu, Paulus melihat seorang Makedonia dalam sebuah penglihatan, “Menyeberanglah ke Makedonia dan tolong kami.” Kemudian dia menyeberangi Hellespont ke Eropa.  Dia pergi melalui Neapolis, ke Fhiipi, ke Apollonia dan Amfipolis dan kemudian ke Tesalonika, kemudian ke Berea, kemudian ke Athena, dan kemudian Korintus. Kemudian dia menyeberangi laut menuju Efesus dan kemudian ke Kaesarea.  Kemudian dia naik ke Yerusalem dan kemudian kembali ke Antiokhia untuk mengkahiri perjalanan misi keduanya yang sukses itu.

Setelah beberapa waktu lamanya, Paulus memulai perjalanan misi ketiganya.  Dia pergi lewat darat lagi, menelusuri lagi jejak langkahnya di Asia Kecil, dan kemudian tiba di Efesus, dimana dia pernah melakukan pelayanan terbesarnya di Efesus. Seluruh dunia terguncang karena pelayanan luar biasanya di Efesus.  Seluruh Asia mendengar Firman Tuhan.  Kemudian dia pergi ke Makedonia dan kemudian ke Korintus lagi dan kembali ke Makedonia dan kemudian ke Miletus dan kemudian ke Yerusalem dan disanalah dia ditangkap.

Pada saat Paulus ditangkap oleh para prajurit Roma di Yerusalem, selama dua tahun kemuridan dia berada dalam penjara di Kaesarea. Pada akhir masa dua tahun itu ia memberitakan Injili kepada Felix, Festus, Herodes Agrippa II, kemudian Paulus diambil oleh Julius, seorang perwira, untuk dibawa ke Roma. Dia berada di Roma selama dua tahun, di rumah yang disewanya sendiri, dan dia memberitakan kabar gembira tentang Anak Allah, dimana tidak seorangpun melarang dia.  Ini terjadi sekitar tahun 63 M.  Sekitar tahun 64 M, dia dibebaskan, dan tetap di sana selama beberapa tahun sampai tahun 67 M, dan dengan bebas dia mengabarkan injil Kristus Yesus.  Paulus pernah bersama Timotius di Efesus dan meninggalkan Timotius di Efesus dan pergi ke Makedonia dan menulis I Timotius. Ia juga pernah bersama Titus di Kreta, dan kemudian dia pergi ke Nikopolis di sisi barat Yunani dan menulis surat kepada Titus.  Kemudian sekitar tahun 67 M, dia ditangkap kembali.  Persis sebelum Nero meninggal, kepala Paulus dipenggal di Appian Way, jalan menuju Tiber dari Kota Roma ke arah laut. Dia mengakhiri hidupnya dengan perkataan kemenangan, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya” (2 Tim. 4:7-8).

Surat-Surat yang ditulis oleh Paulus dibagi kedalam empat kelompok. Kelompok Surat-Surat pertamanya ia tulis pada perjalanan misi keduanya dari Athena dan Korintus. Surat-Surat itu adalah I dan II Tesalonika. Kelompok kedua dari Surat-Suratnya ditulis pada perjalanan misi ketiganya. Ketika ia berada di Efesus, dia menulis I Korintus.  Kemudian di suatu tempat, antara Efesus ke Korintus, dia menulis II Korintus di Makedonia. Kemudian di suatu tempat, entah di Antiokhia atau waktu perjalanan pulang, dia menuliskan Surat Galatia dan Roma. Oleh sebab itu, I dan II Korintus, Galatia dan Roma, keempat Surat ini ditulis bersamaan di sekitar Kota Efesus.  Kemudian kelompok ketiga dari surat-suratnya, Paulus menuliskannya dari penjara di Roma, pada pemenjaraan pertamanya di Roma. Surat-Surat itu terdiri dari Surat Filipi, Filemon, Kolose dan Efesus. Kemudian kelompok keempat dan yang terakhir dari surat-suratnya, yang ditulis setelah pemenjaraannya yang pertama di Roma, dan itu adalah Surat I Timotius, Titus, dan II Timotius,yang disebut sebagai Surat-Surat Pastoral.

Setiap dari surat-surat Paulus memberikan tema-tema tertentu yang pasti. Kelompok pertama (I dan II Tesalonika) menekankan tentang kedatangan Tuhan kita. Paulus telah mengabarkan kabar gembira, dan sekarang dia menyerahkan jiwanya dengan pengharapan besar yang kita miliki di dalam Yesus.  Sejumlah orang telah mati, dan Tuhan belum juga datang.  Bagaimana dengan orang-orang terkasih kita yang telah mendahului kita?  Bagaimana dengan mereka?  Akankah kita bersama-sama dengan mereka di kerajaan Sorga saat waktu itu tiba?  Akankah mereka hidup untuk melihat wajah Yesus, karena mereka telah meninggal dan Tuhan masih belum datang? Paulus menulis I dan II Tesalonika tentang kedatangan Tuhan.  Kemudian kelompok berikutnya (I dan II Korintus dan Galatia dan Roma) berhubungan dengan tema Paulus mengenai ”orang benar hanya hidup oleh iman.”  Kita diselamatkan hany dengan percaya kepada Yesus dan bukan dengan kuat dan gagah kita.  Ini adalah tema sentral dari kelompok kedua surat-suratnya itu. Kelompok ketiga surat-surat Paulus (Filipi, Filimon, Kolose, dan Efesus) menyerang filsafat Gnostik yang mencoba untuk menurunkan keilahian dan kemuliaan serta pribadi Yesus.  Kemudian, tentu saja, kelompok keempat dari surat-suratnya (I Timotius, Titus dan II Timotius) berhubungan dengan peraturan dan ordinansi-ordinansi gerejawi,  pengajaran-pengajaran tentang gereja, pejabat-pejabat gereja dan hal-hal praktis berhubungan dengan gereja.

Kita sampai pada konklusi dari Alkitab. Hanya Rasul Yohanes yang masih hidup ketika semua rasul terlah meningga.  Semua rasul lain telah meninggal.  Rasul Paulus dibunuh persis sebelum kematian Nero di musim gugur tahun 67 M atau musim semi 68 M. Simon Petrus disalib terbalik di bagian timur kekaisaran itu. Semua murid lainnya telah mati bertahun-tahun antara 30 dan 40 tahun sebelumnya. Satu-satunya yang masih hidup adalah pendeta tua gereja di Yerusalem.  Karena Tuhan telah berkata kepada para muridnya, “Ketika engkau melihat pasukan Romawi berdiri di gerbang Yerusalem, larilah.” (bandingkan dengan Lukas 21:20-24).  Jadi, mereka melarikan diri ke Pella di sisi lain Yordan.  Sekitar tahun 69 M, Yohanes, murid yang dikasihi Yesus itu, datang ke Efesus. Di ibu kota besar Asia, di Efesus itu, Allah memberikan  pelayanan besar kepadanya. Di sanadia menulis Injil Yohanes, di sana dia menulis Surat I, II dan IIi Yohanes. Namun Allah memberikan  hal ajaib lain kepada Yohanes. Dalam pembuangan di bawah Kaisar Domitian, dia menulis tentang akhir zaman, wahyu Yesus Kristus, yang diberikan Allah kepadanya.  Wahyu Tuhan Yesus Kristus dalam kemuliaan-Nya dan kejayaan-Nya dan dalam kerajaan-Nya.  “Datanglah kerajaan-Mu” kita berdoa, dan kerajaan itu datang. Wahyu, penyingkapan Tuhan kia, adalah hadiah dari Allah kepada Yesus karena Ia memberikan hidup-Nya bagi dosa-dosa Adam. Itu adalah pemuliaan Allah akan Anak-Nya karena telah mengalahkan Iblis dan menghancurkan Lucifer dan kuasa maut. Karena Kristus telah melakukan ini bagi kita, maka Allah juga sangat meninggikan Dia dan memberikan dia Nama di atas segala nama, sehingga dalam nama Yesus setiap lutut harus bertelut dan setiap lidah harus mengaku bahwa Dia adalah Tuhan bagi kemuliaan Tuhan, Bapa kita. Penyingkapan, Wahyu, Pennyataan Yesus Kristus dalam kemuliaan-Nya, dalam kejayaan-Nya dan dalam kerajaan-Nya adalah hadiah yang diberikan Bapa kepada Yesus karena Dia telah menyelamatkan kita, anak-anak Adam yang terhilang dari dosa-dosa kita.

Di Pulau Patmos, sebuah pulau kecil berkarang berdiameter sekitar 20 mil, beberapa mil ke arah barat daya dari Efesus, di sana Yohanes diasingkan dan mati karena kelaparan dan kedinginan. Namun bahkan di sanalah Tuhan menampakkan diri kepada Yohanes dalam penglihatan yang tiada tara dan penuh kemuliaan. Ia mendengar suara seperti sangkakala, dan kemudian dia berpaling untuk mendengar dan melihat, dan di sana dia melihat Tuhan yang telah bangkit dan dimuliakan, yang terakhir kali dia lihat saat naik ke Sorga.  Tetapi kali ini, oh betapa berjaya dan betapa mulianya! Wajah Tuhan melebihi cahaya matahari, dan mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian. Jubah kebesaran-Nya dengan ikat pinggang emas, dan rambut-Nya putih seperti bulu yang putih metah. Mata-Nya seperti nyala api, wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik. Ketika Yohanes melihat Dia, dia tersungkur, sama seperti orang yang mati. Dengan cara yang sangat familiar (hati-Nya tidak pernah berubah. Dia masih tetap Tuhan Yesus yang sama), dia meletakkan tangan kanan-Nya ke atas bahu murid yang dikasihi-Nya dan dan berkata, “Jangan takut. Tidak ada yang perlu ditakutkan bagi anak Allah.  Jangan takut akan kematian. Jangan takut akan kubur. Jangan takut akan penghakiman. Jangan takut akan kekekalan. Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut. Aku yang memegangnya. Jangan takut.” Kemudian Dia memerintahkan rasul itu untuk menuliskan apa yang ia telah lihat, Tuhan memberikan kepadanya tiga garis besar dari Kitab Wahyu: “Tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi sesudah ini.”

Dalam ketaatan  Yohanes mengambil penanya dan mulai menulis. Dia menulis hal-hal yang telah dia lihat, penglihatan akan Tuhan yang telah dimuliakan yang sedang berjalan di tengah tujuh kaki dian, Yesus di antara jemaat-jemaat-Nya. Kemudian, kedua, dia menulis hal-hal yang terjadi sekarang, hal-hal yang berhubungan dengan jemaat-jemaat-Nya. Di sini ada jemaat, di sana ada jemaat, nun di jauh sana ada jemaat, persis seperti yang ada pada hari-hari Yohanes. Itu adalah tentang: jemaat-Nya di Efesus, jemaat-Nya di Smirna, jemaat di Pergamus, jemaat di Tiatira, jemaat di Sardis, jemaat di Filadelfia, dan jemaat Laodikia, yang mana tujuh jemaat itu sebagai tipe dari jemaat-jemaat sepanjang abad. Kemudian yang ketiga, dia menuliskan hal-hal yang akan terjadi sesudah ini, meta tauta, “yang akan terjadi sesudah ini,” setelah jemaat-jemaat itu tidak ada lagi.

Jadi, dalam nubuatan ini (karena Wahyu adalah kitab nubuatan) Yohanes menuliskan “hal-hal yang sedang terjadi;” yaitu, gambaran tentang jemaat-jemaat Allah sampai akhir zaman.  Ada periode jemaat Efesus, ada periode jemaat Smirna, ada periode jemaat Pergamus di gereja itu, ade periode jemaat Tiatira, ada periode jemaat Sardis, ada periode jemaat Filadelfia, ada periode jemaat Laodikia di sepanjang sejarah gereja Tuhan.

Periode jemaat Efesus adalah periode jemaat dari zaman para rasul saat gereja dianiaya.  Periode Smirna adalah periode saat gereja mulai meluas pada zaman  Kekaisaran Romawi, dan itu adalah gereja martir dan menderita. Periode Pergamus saat gereja dalam keadaan yang sangat tragis di mana gereka kawin dengan dunia ini.  Periode Tiatira adalah saat gereja berbicara tentang emas dan perak, dan kalung di lehernya, dan berpakaian dengan jubah mewah, dan gereja berbicara seperti sabda Tuhan yang tidak bisa salah, saat gereja berzinah dengan dunia (Wahyu 2:22), gereja yang digambarkan dalam Wahyu pasal tujuh belas. Periode Sardis adalah jemaat dari Reformasi agung, dimana ada beberapa nama yang maju ke depan untuk berdiri bagi Allah (Wahyu 3:4). Balthasar Hubmaier, Felix Mantz dan John Calvin, Martin Luther, John Knox – sedikit orang di Sardis yang berjalan di jalan Tuhan.

Periode Filadelfia adalah periode pintu terbuka (Wahyu 3:8).  Itulah alasan mengapa saya pikir kita sedang manuju akhir periode Filadelfia. Pintu sedang mulai ditutup. Kita tidak bisa mengabarkan injil di China. Anda tidak bisa mengabarkan injil di Kuba.  Anda tidak bisa memberitakan injil di Soviet Russia.  Anda tidak bisa memberitakan injil di Polandia atau di Lithuania atau di Estonia, dan Anda tidak bisa mengabarkan injil di Yugoslavia atau Rumania atau Bulgaria. Pintu-pintu mulai menutup, dan periode Filadelfia akan segera berakhir. Kita sedang menuju akhir masa itu.  Masa terakhir adalah masa jemaat Laodikia, dimana gereja sampai pada kesudahan akhir dunia ini. Mereka hidup nyaman di Zion dengan dunia dalam kondisi bergejolak. Mereka tidak perduli. Bersama dunia  yang sedang menghadapi hari-hari penentuan besarnya, dan mereka tidak berdoa, mereka tidak memberitakan Injil, hidup enak di Zion. Itulah zaman jemaat Laodikia.

Kemudian Wahyu pasal empat, di bawah simbolisme pengangkatan Yohanes ke Sorga (Wahyu 4:1,2), jemaat diangkat dari bumi ini (rapture), jemaat tidak dibicarakan lagi sampai kedatangan Tuhan dalam pasal sembilan belas dari Kitab ini. Bersamaan dengan pengangkatan jemaat (rapture), maka datanglah kesudahan akhir yang mengerikan dan tragis, hari Tuhan, Kesusahan Besar yang dibicarakan oleh Yoel, oleh Zakaria, oleh Yesus, dan oleh para rasul. Hari penghakiman akhir dari Tuhan akhirnya datang.

Waktu yang mengagumkan itu diperkenalkan sebagai hari pengankatan jemaat (rapture). Tuhan datang (antara pasal ketiga dan keempat dari Kitab Wahyu) secara rahasia, diam-diam, dan sembunyi-sembunyi seperti pencuri di malam hari. Dia datang untuk mengambil permata-Nya, mutiara-Nya, jiwa-jiwa yang untuknya Dia telah memberikan nyawa-Nya dan mati. Ia datang untuk kita, umat tebusan Tuhan. Dia datang tanpa pengumuman. Tidak ada tanda, tidak ada peringatan, tidak ada pertanda, tidak ada pengumuman, tidak ada apapun. Setiap saat, sewaktu-waktu, suatu jam tertentu Tuhan kita datang.  Tidak ada nubuatan yang tersisa untuk digenapi.  Tidak akan pernah ada tanda apapun antara mendekatnya penampakan Tuhan dan kedatangan-Nya bagi kita. Sama sekali tidak ada! Ia datang setiap saat.

Dia bisa datang pada hari apa saja, kapan saja, untuk mengangkat umat-Nya. Dia datang seperti pencuri di malam hari.  Mungkin saja itu malam hari. Mungkin saat senja. Mungkin juga dalam kegelapan tengah malam yang akan menjadi bercahaya karena kemuliaan-Nya saat Tuhan datang.

Ketika Dia datang bagi kita, orang-orang yang kita kasihi dan orang-orang kudus pertama-tama bangkit, kemudian kita yang masih hidup diangkat bersama dengan mereka menyongsong Tuhan di angkasa (I Tesalonika 4:13-18). Itulah hal yang pertama. Kita akan pergi bersama dengan Tuhan kita, dan di sana di hadapan tahta pengadilan Kristus (Bema), kita menerima upah dari perbuatan yang kita lakukan semasa kita hidup. Penghakiman kita untuk dosa telah berlalu. Itu telah diselesaikan di kayu salib. Penghakiman kita di hadapan Yesus adalah untuk menerima hadiah dari hidup kita. Itulah sebabnya mengapa Anda tidak dapat menerima upah Anda saat Anda meninggal, karena hidup Anda masih berjalan.  Paulus masih hidup di, bahkan di dalam  Kitab yang saya kotbahkan ini. Para atheis seperti Voltaire dan Tom Paine, mereka juga masih hidup. Setiap kali Anda melihat seorang rekan membaca karya Tom Paine atau Voltaire, mereka yang mengikutinya siap untuk mengutuk Allah dalam bahasa Paine dan Voltaire.  Itu menunjukkan bahwa para penghujat tersohor itu juga masih hidup. Anda tidak mati saat Anda meninggalkan dunia ini. Anda tidak mendapat upah saat Anda mati. Itulah sebabnya upah diberikan di akhir. Hidup kita masih berjalan dan terus berjalan dan berjalan dan hanya Allah yang bisa mengurai skema dan mengikuti untaiannya, sampai akhir masa kita menerima upah kita. Pada saat Tuhan datang, kita dan orang-orang kudus yang lebih dulu meninggal dunia akan diubahkan dalam sekejap mata, dalam satu kedipan mata, pada akhir zaman (I Kor. 15:52).  Ketika kita semua dibawa bersama Tuhan, kita pergi kepada Juruselamat kita dalam kemuliaan.  Di sana kita berdiri di hadapan Tuhan untuk menerima upah kita, mahkota kita untuk apa yang telah kita lakukan dalam tubuh ini, pada akhir masa, bukan saat Anda mati, tetapi di akhir masa. Bersama dengan upah yang diberikan kepada kita, kita akan masuk bersama Juruselamat kita untuk bergabung dalam pesta kawin atau perjamuan Anak Domba.

Ketika umat Allah ada bersama Juruselamat mereka dalam kemuliaan, peristiwa tragis akan terjadi di dunia ini yang kita sebut masa Kesusahan Besar.  Akan ada gejolak, kengerian dan teror bangsa-bangsa di dunia ini dan pada saat itu akan bangkit seseorang yang menyatakan dirinya sendiri sebagai penyelamat dunia yang agung. Dia berkata bahwa ia akan membawa damai, kemenangan, kemuliaan dan kejayaan. Oh itulah yang ia janjikan! Ia berjanji kepada Israel, bahwa mereka boleh kembali ke tanah air mereka, dia akan berjanji untuk memberikan tanah itu, menjanjikan pemulihan bangsa itu, bait suci mereka, dan rakyat mereka. Dia menjanjikan segala hal. Namun dia adalah sang anti-Kristus. Selama tiga setengah tahun dia berkuasa, seluruh dunia dan Israel akan mengikuti dia. Kemudian di tengah-tengah masa tujuh tahun itu, yaitu masa tujuh tahun Kesusahan Besar, dia kembali menjadi iblis. Kemudian datanglah gelombang anti-Semitik yang paling tragis dan mengerikan yang pernah dikenal bumi ini (Daniel 9:27).

Anti-Kristus itu, binatang yang muncul dari laut itu, di sisinya dia juga memiliki binatang lain, yaitu nabi palsu, yang tampil dalam semua kemuliaan dan kehebatan sistem gerejawi. Nabi palsu itu membuat perjanjian dengan binatang itu, sang penguasa dunia itu, sang diktator besar akhir masa, yang menyatakan dirinya sendiri sebagai Pemimpin (fuhrer) dan pemimpin dari semua bangsa di dunia.  Dia akan memimpin mereka menuju kedamaian dan kemuliaan.  Kemudian akhirnya dia akan melanggar perjanjiannya dengan umat Tuhan, dan setelah itu semua teror dan banjir darah, kengerian terjadi.  Tetapi Allah turun dalam belas kasihan-Nya dan Dia memeteraikan 12,000 orang dari suku Yehuda.  Dia memeteraujab 12,000 orang dari suku Simeon.  Allah memeteraikan 12,000 orang dari setiap suku Israel. Tentu saja Allah mengenal setiap orang dari suku Yehuda, Simeon, Ruben, Gad. Dia mengenal mereka semua. Pada hari-hari pencobaan yang mengerikan dan tragis itu, Allah akan memeteraikan 12,000 dari masing-masing suku itu.  Orang-orang yang dimeteraikan itu akan bersaksi tentang Kristus. Mereka berjumlah 144,000 orang yang akan mengabarkan kabar gembira Anak Allah di tengah darah dan kengerian dan kengerian itu, dan akan terjadi kebangunan terbesar yang belum pernah terjadi sebelumnya di dunia ini. Orang-orang yang bertobat dan percaya kepada Kristus akan menerita dari penganiayaan orang-orang tidak percaya dan mereka menjadi martir. Namun dalam kematian mereka akan disambut untuk masuk ke dalam Sorga. Sebagaimana dinyatakan dalam Wahyu 7:14: “Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.” “Benang Kirmizi Sepanjang Alkitab.” Itu mulai di Eden dan berakhir dalam kemuliaan.

Kemudian dalam Wahyu itu kemudian diikuti oleh ketujuh meterai dan penghakimannya, ketujuh sangkakala dan penghakimannya, dan ketujuh cawan dan penghakimannya, ketujuh tokoh dan penghakimannya. Ada binatang (anti-Kristus), nabi palsu (perempuan berpakaian merah tua) dan sistem-sistem dunia, semua bergerak maju menuju hari penghakiman yang besar dari yang Mahakuasa. Anti-Kristus, yang menyatakan diri sebagai pimpinan bangsa-bangsa dunia, dia mengumpulkan seluruh pasukan di bumi. Mereka berkumpul dari utara di Russia dan dari timur di Cina dan dari Selatan di Afrika dan dari barat, dari Eropa.  Mereka berkumpul di hari Tuhan yang besar, dan ini adalah Pertempuran Akhir Zaman (Perang Harmageddon). Di tengah-tengah kecamuk yang mengerikan itu, perang besar dunia terakhir yang terjadi di dataran yang sama di mana banyak peperangan dunia telah terjadi. Dari zaman dulu, Megido, Esdraelon, Yizreel telah menjadi medan penumpahan darah. Di Gunung Megiddo pasukan dunia akan berjumlah jutaan berkumpul untuk suatu pertemuan besar melawan Allah. (Menurut Wahyu 9:16 pasukan dari timur saja berjumlah dua ratus juta orang atau “dua puluh ribu laksa pasukan berkuda”). Di tengah pembantaian yang mengerikan itu, Kristus intervensi dalam sejarah manusia. Ia datang bersama dengan orang-orang kudus-Nya.  “Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: "Yang Setia dan Yang Benar", Ia menghakimi dan berperang dengan adil. Dan mata-Nya bagaikan nyala api dan di atas kepala-Nya terdapat banyak mahkota… Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: "Firman Allah." Dan semua pasukan yang di sorga mengikuti Dia; mereka menunggang kuda putih dan memakai lenan halus yang putih bersih. Dan dari mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul segala bangsa… Dan pada jubah-Nya dan paha-Nya tertulis suatu nama, yaitu: "Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan" (Wahyu 19:11-16). Itulah intervensi Allah dalam sejarah manusia. Dia membebaskan umat-Nya yang terkepung di kota kudus, dan Dia menangkap Iblis dan mengikatnya selama seribu tahun dalam jurang maut.
Tetapi bagaiman dengan orang-orang yang memasuki Milenium? Kitab Suci menyingkapkan dua penghakiman di sini. Pertama, ada penghakiman bangsa-bangsa (Matius 25:32). Semua bangsa yang menjadi bersahabat dengan para hamba Allah yang mengabarkan kabar baik, mereka semua akan masuk ke dalam kerajaan Milenium, karena mereka menerimanya, dan bersikap baik terhadapnya. Tindakan mereka menunjukkan karakter mereka. Mereka akan masuk ke dalam Milenium. Kemudian, menurut Yehezkiel, akan ada penghakiman atas Israel (Yeh. 20:33-38), dan mereka yang memberontak dan menolak untuk menerima Mesias akan dilempar keluar.  Mereka yang menerima Tuhan Yesus akan masuk ke dalam kerajaan Milenium.  Selama seribu tahun, mereka akan memerintah bersama Kristus atas bumi saat kerajaan-Nya datang, dan kehendak Tuhan akan terlaksana di bumi ini seperti di Sorga.

Pada akhir masa seribu tahun itu, Iblis akan dilepaskan, salah satu hal yang paling tidak terpahami dalam nubuatan ini.  Iblis akan dilepaskan, dan beberapa dari mereka yang ada di kerajaan Milenium yang tidak sepenuh hati tunduk dan tidak mengasihi Allah, mereka akan memberontak. Pada saat itu akan terjadi konflik akhir yang mengakhiri pemberontakan manusia kepada Allah untuk selama-lamanya.

Kemudian akan ada kebangkitan akhir dari orang jahat yang telah mati dan Penghakiman Tahta Putih yang besar. Kitab-kitab akan dibuka. Nama-nama mereka tidak ditemukan dalam Kitab Kehidupan, dan mereka akan dihukum sesuai dengan perbuatan mereka.  Anda akan menerima upah saat Yesus datang kepada kita.  Tetapi mereka akan mendapat penghukuman dari Allah. Mereka yang masih terhilang itu akan menghadap  penghakiman Tahta Putih yang besar dan dihakimi menurut perbuatan mereka. Maut dan kerajaan maut, mereka semua akan dilemparkan ke dalam neraka, ke dalam lautan apai dan belerang, dan Iblis akan ke dalam neraka dimana binatang dan nabi palsu itu telah lebih dahulu berada di sana selama seribu tahun.

Kemudian akan datang pemulihan. Akan ada langit baru dan bumi baru yang diciptakan kembali sesuai dengan kepenuhan dan kemuliaan dan keajaiban Allah. Akan ada langit baru dan bumi baru seperti awal mulanya saat Allah menciptakan langit dan bumi. “Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka” (seperti ketika Ia datang  pagi-pagi di Taman Eden, berjalan di hari yang dingin). “Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu” (Wahyu 21:2-4).  Tidak akan ada lagi kematian.  Tidak akan ada lagi rasa sakit! Tidak akan ada lagi dukacita. Semua hal itu telah berlalu. Tidak akan ada kuburan di puncak kemuliaan. Tidak akan ada ratapan kematian di pintu istana di Sorga!

“Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!"… Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan” (Wahyu 21:5,6).  “Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu… Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan” (dari Taman Eden berpindah ke Taman Firdaus Allah) “dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa… dan mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka…. dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya” (Wahyu 22:1, 2, 4, 5).

“Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: "Ya, Aku datang segera!" Amin, datanglah, Tuhan Yesus!” (Wahyu 22:20).  Engkau mengetahui hati kami, kami telah siap. Kapanpun Tuhan dating, kami menanti dan menanti serta berdoa. Datanglah! Anugerah penebusan Allah. “Benang Kirmizi Sepanjang Alkitab,”telah mempersiapkan jiwa kami menuju kemuliaan. Kami siap. Datanglah!

Back

Catatan:

Tiga seri "Benang Kirmizi Sepanjang Alkitab" ini telah tersedia bukunya dalam e-Book yang dapat Anda download dengan klik gambar di bawah ini: